Ilmu: Substansi atau Formalitas ?

Juni 19, 2009 at 3:46 pm 2 komentar

Ilmu: Substansi atau Formalitas ?

Oleh Ario Permadi*

adfar


Ilmu adalah substansi dari sebuah formalitas bernama kuliah, ujian dan sebagainya.
Setujukah pembaca dengan pernyataan diatas?
Kuliah disuatu universitas pada hakikatnya adalah mencari ilmu, pengalaman dan kematangan profesi, sedangkan formalitasnya melalui jam-jam perkuliahan, les, pratikaum dan sejenisnya.

Saya yakin sekali, ketika kita sebagai mahasiswa saat ditanya tentang apa tujuan kita kuliah di universitas ini?, atau ketika seorang siswa ditanya apa tujuannya setiap hari pulang pergi sekolah? Jawabanya “menuntut ilmu” , “menambah wawasan “ atau minimal memperbaiki derajat dan taraf kehidupan. Seorang mahasiswa akan merasatersinggung ketika dijustifikasi bahwa kuliah itu hanya mencari nilai gelar dan ijazah.

Sehingga kita semua setuju bahwa ilmu itu jauh lebih penting dari nilai, kuliah, pulang pergi kampus –kos plus kampung, dengan kata lain substansi itu jauh lebih penting dari formalitas

Dilapangan, dalam kenyataannya adakah kita dapati seperti itu?Adakah terbesit dalam hati kita, ketika kita duduk, mendengarkan uraian dosen bahwa yang menjadi prioritas utama kita adalah ilmu dan pemahaman untuk diaplikasikan di dunia kerja dimasa depan? Adakah terpatri dalam benak kita bahwa setiap kali kita mencatat penjelasan dosen, kelak catatan itu yang akan lebih membantu kita dalam mengingat ilmu yan diberikan dosen pada kita?

Alhamdulillah bagi kita yang menjawab “iya”, dan kelak generasi inilah yang akan melanjutkan cita-cita besar bangsa ini, tapi bagi kita yang kuliah hanya untuk mendapat gelar dan ijazah mengikuti kelas perkuliahan agar dapat izin mengikuti ujian,dan mencatat supaya bisa menghapal saat akan ujian dan tentunya orientasi dari semua ini tak lebih dari sekedar nilai atau minimal lulus mata kuliah yang diambil. Dan cita-cita terbesar dari semua ini adalah lulus dengan predikat cum laude..
Tidakkah kita merasa rugi empat tahun atau bahkan sampai enam tahun pulang balik kos-kampus hanya untuk mendapat selembar kertas dengan deretan angka-angka nilai, hanya untuk menambah beberapa huruf pada deretan nama kita? Memang kita bisa beralasan, bagusnya nilai yang ada ditranskrip nilai akan lebih mempermudah kita dalam mencari pekerjaan yang layak, dan tentunya bergaji basar, dengan gelar yang tingi kita akan disegani ditengah masyarakat, tapi apakah kita patut berbangga jika nilai-nilai yang kita peroleh hanya hasil menghapal semalam suntuk sebelaum ujian dan hilang begitu kaki melangkah meninggalkan ruang ujian, atau yang lebih ekstrimnyadengan mencontek, jimat dan sejenisnya?, apakh kita bangga dengan gelar kita jika ternyata ilmu yang seharusnya menyertai gelar tersebut tidak ikut serta dengan tertempelnya gelar tersebut pada diri kita?
Niali adalah formalitas belak dan jangan sia-siakan kuliah kita hanya untuk mencari nilai. Dahulukanlah substansi dari pada sekedar formalitas, karna ketika kita mampu menguasai ilmu, nilai akan ikut serta bersama ilmu, tapi ketika kita mementingkan formalitas, ilmu akan tertinggal jauh dibelakang. Contoh kecil ketika kita berorientasi pada nilai kita akan berusaha menghapal mati-matian, dan bahkan menghalalkan segala cara.
Jika akal kita mau berfikir nyontek dan jimat tak lebih dari sebuah usaha sia-sia mendapatkan sebuah formalitas yang semu bernama nilai, dan sangat jauh dari subtansi; pemahaman. Betapa mirisnya hati kita ketika nyontek jadi budaya dan jimat jadi pegangan. Dan sebuah paradox, mahasiswa sanggup bangga dengan nilai yang diperolehnya denga mencontek dan jimat, semuanya sudah jauh dari substansi ujian yang seharusnya menjadi tolak ukur pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah. Ujian jadi sebuah gerbang ketakutan mahasiswa, takut tidak lulus dan mengulang, tidak kah kita sadar bahwa ketika kita belum lulus suatu mata kuliah kita memang belum akan sanggup untuk melanjutkan ke mata kuliah berikutny, kita harus lebih memahami mata kuliah tersebut dengan mengulang mempelajarinya. Akan lain jadinya jika kita yang sebenarnya belum lulus mata kuliah tersebut lantas lulus dengan cara-cara illegal dan tidak memahami tentunya, mengambil mata kuliah selanjutnya dengan ketidak pahaman yang bertambah-tambah (miris sekali). Sebuah lingkaran setan yang sulit sekali diputus.
Sedangkan bagi mereka yang benar benar berorientasi pada pemahaman, nilai bukanlah apa-apa, kalau memang bagus berarti ia sudah memehami mata kuliah tersebut, sedangkan bila harus mengulang suatu mata kuliah ,ia yakin bahwa ia memang belum memahami materi kuliah tersebut. Dengan penuh tanggung jawab ia akan mencoba kembali memahami materi kuliah tersebut baik dengan mengulang maupun dengan mencari referensi lain. Bahkan orang seperti ini tak akan mau repot-repot memprotes nilai yang diberikan dosen kepadanya sekalipun ia merasa kurang puas, ia yakin yang diberikan padanya ialah yang terbaik untuknya. Tak pernah terbesit dalam pikiranya untuk mencontek, baginya ujian hanya formalitas belaka yang substansinya adalah menilai pemahamanya terhadap suatu ilmu.
Pertanyaannya, apakah yang kita cari ke kampus ini: Nilai ataukah ilmu?
Ingin cari nilai itu gampang, hapal saja bahan ujian ketika akan ujian, atau bahkan buat contekan, jimat dan cara lainnya, asal tidak ketahuan nilai pasti bagus
Tapi lain halnya jika kita beorientasi pada ilmu, apapun yang terjadi pemahaman selalu yang utama. Nilai bukanlah suatu yang penting…
* Penulis adalah mahasiswa semester IV Jurusan Akuntansi Universitas Andalas – Sumatera Barat

Entry filed under: Pemikiran Kita. Tags: .

Pengembangan Sektor Perkonomian di Sumbar SELAMAT IDUL ADHA 1430H

2 Komentar Add your own

  • 1. andalascendikia  |  Juni 19, 2009 pukul 4:04 pm

    Terima Kasih kepada Saudara Ario Permadi yang telah mengirimkan karya tulisnya ke Andalas Cendikia.
    Semoga kedepan kita terus dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

    Balas
  • 2. Ihsan  |  Juni 19, 2009 pukul 11:33 pm

    Wah, artikelnya menyentuh sekali :) Mengingatkan kita akan hakikat menuntut ilmu. Smg kita dpt kembali meluruskan niat dlm menuntut ilmu agar apa yang kita peroleh diberkahi Allah dan bermanfaat.
    Jgn bangga dgn nilai tinggi yang diperoleh dgn cara yang tidak wajar. Merugilah orang2 yg spt itu. Hanya mendapatkan kebahagiaan sesaat, karena ketika menghadapi kehidupan sebenarnya di dunia kerja, biasanya ia akan merasakan kesulitan. Saya punya teman yang seperti itu. Skrg banyak mengeluh, Ketahuan dah bhw ilmunya hanya untuk ujian saja :(

    Salam kenal untuk penulisnya:)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Komentar Terakhir

iim on Galeri Foto
andalascendikia on OPEN RECRUITMEN
ke on OPEN RECRUITMEN
andalascendikia on OPEN RECRUITMEN AC 2009
IIM on OPEN RECRUITMEN AC 2009
andalascendikia on OPEN RECRUITMEN AC 2009
Iim on OPEN RECRUITMEN AC 2009
andalascendikia on OPEN RECRUITMEN
andalascendikia on OPEN RECRUITMEN
M.ALI TOPAN on Galeri Foto

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Statistik Pengunjung

  • 6,046 pengunjung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.